SBMPTN TPS Penalaran Umum (2)

Ringkasan Materi Tes Potensi Skolastik

Penalaran Umum


Pemahaman Isi Wacana

Penggunaan istilah

SBMPTN TPS Penalaran Umum. Istilah “analisis wacana” pertama kali diperkenalkan pada tahun 1951 oleh Zellig Harris. Perkenalan terhadap istilah ini turut memulai penelaahan secara luas atas wacana sebagai salah satu objek linguistik. Analisis wacana telah mengembangkan wacana sebagai salah satu bidang telaah dengan tingkat perkembangan yang pesat. Perkembangan ini ditandai dengan beragamnya definisi yang diberikan oleh pakar mengenai wacana. Beragamnya definisi ini dipengaruhi oleh perbedaan mazhab linguistik antara lain strukturalisme dan fungsionalisme. Keduanya mengadakan penelaahan terhadap aspek-aspek yang ada pada wacana di luar unsur bahasa.

Alat bantu

Analisis wacana beserta pemahamannya memerlukan koteks sebagai alat bantu analisisnya. Wacana memiliki struktur teks yang saling berkaitan dan ditandai dengan keberadaan koteks. Keberadaan koteks menandakan bahwa suatu wacana memiliki unsur bahasa yang lengkap dan utuh. Analisis wacana juga memerlukan makna metafungsional karena pemaknaannya bersumber dari sistem semantik. Makna metafungsional ini meliputi makna ideasional, makna interpersonal dan makna tekstual. Munculnya ketiga jenis makna ini merupakan akibat dari diversifikasi fungsi pada teks dengan pengendalian oleh sistem semantik.

Analisis wacana kritis

Analisis wacana kritis merupakan proses menjelaskan realitas sosial yang dikaji di dalam teks oleh individu atau kelompok dengan maksud yang sesuai dengan keinginannya. Kegiatan analisis wacana kritis memiliki suatu kepentingan tertentu. Analisis wacana kritis merupakan salah satu jenis analisis wacana yang sering dikaitkan dengan kajian budaya kritis. Pandangan ini muncul karena artefak budaya sebagai bagian dari produksi dan distribusi budaya dianggap sebagai wacana. Anggapan ini terkait dengan hubungan dominasi dan subordinasi dari artefak budaya. Pendekatan analisis wacana kritis yang banyak digunakan antara lain yang dibuat oleh Roland Barthes dan Norman Fairclough. Keduanya sama-sama menggunakan metode analisis wacana yang disertai dengan pemberian tahap-tahap yang perlu dilakukan.

Struktur Wacana

Secara umum struktur wacana terdiri dari struktur gagasan, struktur paparan, dan struktur bahasa. Struktur sebuah wacana merujuk pada struktur yang menyeluruh atau struktur global pada bentuk pesannya. Dalam hal ini, bentuk pesan tersebut bergantung pada konteks situasi yang melatarbelakanginya. Di samping itu, struktur wacana juga tercermin pada retorika dan persuasi pesan.

SBMPTN TPS Penalaran Umum. Kemampuan Spasial Persamaan Gambar

Sumber: analisis wacana

Contoh Soal

Results

-

HD Quiz powered by harmonic design

(1) Pemerintah memutuskan untuk menaikkan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 terhadap barang impor sabun dan kosmetik. Hal itu diungkap oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Heru Pambudi saat berkunjung ke kantor Transmedia, Selasa (28/8/2018). Heru mengatakan sabun dan kosmetik yang sudah pasti dikenakan kenaikan PPh 22, sementara itu barang konsumsi lainnya masih dievaluasi. (2) Khusus untuk komoditas kosmetik, seberapa besar sebenarnya impor RI? Berdasarkan data yang Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor kosmetik dan perlengkapan toilet (termasuk perlengkapan kecantikan, skin-care, manicure/pedicure) hingga senilai US$226,74 juta (sekitar Rp3,29 triliun menggunakan kurs Rp14.500/US$), pada tahun 2017. Nilai sebesar itu meningkat nyaris 30% dari capaian tahun 2016 yang “hanya” sebesar US$175,48 juta (Rp2,54 triliun). (3) Lantas, dari seluruh produk kosmetik tersebut, jenis apa saja yang paling banyak masuk ke Indonesia? Apabila diuraikan, setidaknya terdapat 7 produk turunan sesuai dengan klasifikasi Harmonized System (HS) yang didata oleh BPS. Ketujuh produk turunan tersebut adalah perlengkapan make-up bibir (kode HS 3304100), make-up mata (kode HS 3304200), manicure/pedicure (kode HS 3304300), bedak kecantikan/make-up (kode HS 3304910), krim anti jerawat (kode HS 3304992), krim dan lotion wajah/kulit (kode HS 3304993), dan lotion dan krim lainnya (termasuk sun screen/sun tan) dengan kode HS 3304999. Pada tahun 2017, jenis yang paling banyak diimpor oleh tanah air adalah lotion dan krim lainnya (termasuk sun screen/sun tan), yakni mencapai US$80,54 juta (Rp1,17 triliun). Nilai sebesar itu mencapai lebih dari sepertiga sendiri (35,5%) dari total nilai impor produk kosmetik di periode itu. (4) Sebagai catatan, nilai impor lotion dan krim lainnya (termasuk sun screen/sun tan) di tahun lalu meningkat lebih dari 2 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya senilai US$39,13 juta (Rp567,38 miliar). Alhasil, produk jenis inilah yang menjadi “bahan bakar” bagi melonjaknya total impor produk kosmetik RI di tahun lalu. Di urutan kedua, ada produk krim dan lotion wajah/kulit lainnya, dengan nilai impor mencapai US$73,71 juta (Rp1,07 triliun), atau menguasai 32,51% pangsa impor produk kosmetik RI. Meski demikian, nilai impor kategori produk ini turun tipis 1,26% dibandingkan posisi tahun 2016. (5) Justru kategori lainnya yang menunjukkan kenaikan lumayan signifikan di tahun 2017 adalah produk make-up bibir dan make-up mata, masing-masing sebesar 28,95% dan 16,42% secara tahunan (year-on-year/YoY). Impor produk kosmetik RI terindikasikan masih akan melonjak di tahun ini. Berdasarkan rilis data teranyar dari BPS, total impor produk kosmetik di periode Januari-Mei 2018 sudah tercatat sebesar US$139,12 juta (Rp2,02 triliun). Nilai itu sudah melambung 66,87% dari impor periode Januari-Mei 2017 yang sebesar US$83,37 juta (1,21 triliun). (6) Melihat lajunya yang cukup kencang, wajar pemerintah akhirnya menahan impor produk kosmetik. Terlebih, produksi industri farmasi besar dan sedang dalam negeri sebenarnya masih solid. Di tahun 2017 saja, pertumbuhan sektor ini mencapai 7,94%, masih jauh lebih besar dari pertumbuhan total industri manufaktur besar dan sedang di Indonesia pada tahun lalu yang sebesar 4,36%. Namun, perlu dicatat bahwa impor produk kosmetik di tahun lalu hanya berkontribusi sebesar 1,6% dari total impor barang konsumsi RI. Jika dibandingkan dengan seluruh total impor barang, kontribusinya bahkan hanya 0,14%. Oleh karena itu, menahan impor komoditas ini sebenarnya masih memberikan dampak yang cukup minim untuk menekan defisit neraca perdagangan Indonesia.

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top