Biologi Umum Genetika (Persilangan Resiprok, Backcross, dan Testcross)

Genetika

Persilangan Resiprok, Backcross, dan Testcross



Sumber: Dr. Alin Liana, S.Si., M.Sc., (2019), Biologi Umum (Sebuah Pengantar Ilmu Hayat), Jakarta Utara: Pustaka Media Guru.


resiprok

Persilangan Resiprok, Backcross, dan Testcross

    Resiprok. Persilangan ini merupakan kebalikan dari persilangan yang semula dilakukan. Sebagai contoh digunakan percobaan Mendel pada warna polong tanaman ercis. Apabila gen H menentukan polong warna hijau dan alelnya resesif h menentukan polong warna kuning, maka persilangannya adalah sebagai berikut:

    persilangan resiprok

    Hasil persilangan resiprok pada pewarisan Mendel (pewarisan autosomal) menunjukkan hasil yang sama, baik fenotip maupun genotipnya.

      Backcross yaitu persilangan antara hibrid F1 dengan induknya yang jantan atau betina. Dengan menggunakan contoh yang sama dengan di atas, maka persilangannya menjadi seperti berikut:

      resiprok

        Testcross yaitu persilangan antara hibrid F1 dengan individu yang homozigot resesif. Dengan menggunakan contoh di atas, maka persilangannya menjadi seperti berikut:

        resiprok

        Perbandingan genotip: 1 Hh : 1 hh

        Perbandingan fenotip: 1 Hijau : 1 Kuning (50% : 50%)

        Uji silang ini dilakukan untuk menguji apakah suatu sifat dominan ditentukan oleh genotip homozigot dominan atau heterozigot.

        Sejarah

        Dalam ilmu genetika, persilangan timbal balik dikenal sebagai suatu percobaan persilangan yang dilakukan oleh Gregor Mendel pada tahun 1963. Pada saat itu mendel melakukan percobaan persilangan di antara koleksi tanaman kacang kaprinya yang berbeda sifat atau karakternya dan apabila ditanam akan menghasilkan keturunan dengan sifat yang sama persis dengan tetua (true-breeding).

        Mendel melakukan percobaan yaitu dengan menyilangkan serbuk sari dari kacang kapri yang bijinya berkerut ke putik tanaman kapri yang berbiji halus. Saat itu Mendel juga melakukan persilangan antara tanaman kapri berbiji halus sebagai sumber serbuk sari (tetua jantan) dengan tanaman kapri yang bijinya berkerut sebagai tetua betina.

        Ketika biji hasil persilangan ditanam dan dibiarkan menyerbuk sendiri, Mendel mendapati jumlah tanaman yang dihasilkan mempunyai perbandingan 1: 3 di antara tanaman yang bijinya berkerut dan halus. Hasil yang sama juga didapatkan untuk keturunan persilangan kebalikannya. Saat itu disimpulkan bahwa sifat berkerut atau halus pada biji kapri tidak terkati atau dipengaruhi oleh jenis kelamin.

        Simak juga pembahasan sebelumnya tentang Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II.

        Sumber: wikipedia.org


        Loading

        Leave a Comment

        Your email address will not be published. Required fields are marked *

        Scroll to Top